Selasa, 14 April 2009

Kasih lagi.....

XXI


Sekelebat itu datang lagi, tak pernah kuundang namun tak bisa ku panggil lagi walaupun inginku. Kedatanganya meningglkan jejak-jejak kerutan di rona wajahku.


Mungkinkah Waktu itu selalu dibagi menjadi yang lalu, Sekarang dan yang akan datang. Kalau memang demikian seharusnya aku sudah dalam kedamaian, seharusnya itu Cuma semadam ilusi. Tapi kenapa itu serasa nyata, sama sekali tak menyentuh kulitku namun jauh menusuk denyut hatiku.


Andaikan aku entitras yang bebas nan independen, mustinya aku mampu mencabut pedang romantis masa lalu ini.


Bagaimana mungkin aku mendapati diriku sebagai entitas yang terbelenggu abadi. Bukankah aku tidak pernah minta ini untuk terjadi kepadaku, kerasnya batu karangku, sekarang tak lebih dari pohon yang layu sempoyongan.


Betapa menjijikkan diriku yang sebenarnya itu, tak terbayang diriku muntah karena diriku sendiri.


Sampahku teronggok di sana dengan begitu mejijikkan, sampai-sampai tidak ada yang mau hanya untuk sekedar menginjaknya walau untuk menghina sekalipun.


Yang kuingin sekarang hanya menari-nari bebas diatas nilai-nilai, dan tak hirau apapun. Walau hanya sekejap saja, tolonglah aku.


Kepada siapa aku akan meminta tolong pada sesuatu yang terberi, bukankah keterpaksaanku menanti di sana.


XXII


Aka kutulis lagu deritaku diatas kertas hidup ini, dengan menggunakan tinta darah. Senandung deritaku akan mengalun dalam irama kehampaan. Irama lagi ini akan melukiskan kegembiraan sakitku yang perih tak terkira. Akan kukabarkn pada semua tentang sakitku yang tak terkira, walau kau tak mau untuk mendengar, tetap akan kudendangkan meski untuk itu aku harus memotong telingamu.


XXIII


Bagaimana mungkin ada keumuman, selama kita berbeda. Jangan kau letakkan keumummanmu itu karena itu sama dengan menginjak diriku. Jangan sekali-kali kau pancangkan di sana sehingga tidak tuk di pertanyakan lagi. Karena itu sama dengan menginjak aku, kau, dan semua.


Kita adalah yang berbeda adalah konyol untuk disamakan. Atas nama aku itu hanyalah impresi-impresi untuk memuaskan diri yang sebenarnya, hanya atas nama kuasa berkehendak untuk membunuh kuasa berkehendak itu sendiri.

Bagikan

LinkWithin