IX
Langkahku terpasung dalam gelap, tak satupun yang terlihat bahkan anggota tubuhku namun beruntung suaraku masih terdengar, masihku bisa berteriak, masihku bisa menjerit, walau hanya itu yang bisa kulakukan.
Berkali-kali kuterbentur dinding gelap, seringkali terpikir bahwa dunia memang sedemikian sempit. Derita dan ketakutan yang kunikmati, menjalar sampai pembuluh nadiku sampai-sampai tak ingin kulupakan ini sedetikpun.
X
Anak derita dalam pasungan, terjerembab disana, dengan kedua kaki tangan yang tertekuk. Pikiran itu turut terpasung, sehingga hanya kosong yang didapati, lupa atau mungkin tak terasa bahwa darah masih mengalir, terbesit keinginan untuk menari dan besenandung tak liris namun ceria, senandungkan derita.
XI
Kedalaman hatiku yag sudah hilang, gelegar ombakku yang sudah mengalir dengan tenang, menyiratkan sepoi-sepoi angin dalam keheningan damai yag tenang. Tak terbesit kegelisahanku sampai-sampai kutakut, aku telah menyembunyikannya di satu tempat yang nun jauh di sana sulit tuk di capai atau tak mau untuk menjemputnya.
XII
Sesekali kunikmati secangkir kopi yang kusedu pelan-pelan, menikmati kesejukan aroma kopi dengan penciumanku untuk kubawa masuk ke dalam nuraniku, aromanya bergelantungan di hatiku. Sampai ku tak sadar aku telah terlempar dalam ruang dan waktu di sana, tak inggin kukembali namun ku harus, rasa ini tak mungkin kutinggalkan tapi harus, kemana harus kucari pertolongan, tidak ada seorangpun yang berada di sana, ketakutan semakin mencekam, karena terlintas bahwa hanya aku sendiri yang yang bisa menolong diriku sendiri, semakin dalam kurasakan karena kudapati kenyataan bahwa hanya aku sendiri yang bisa menolong diriku sendiri.
Kemurunganku, kegelisahanku, kebahagiaanku apakah harus kulepas begitu saja, apakah harus kuletakkan di meja judi serta merta, bagaimana jika aku kalah. Tanggung jawab yang melekat ini begitu menakutkan, lebih baik batu, kerikil dan hamparan kerikil yang tiada guna yang menaggungya.
Di depan kopi kudapati diriku telah melemah, nadiku sudah mempelan, ketakutan itu telah membangkitkan kepengecutanku.
XIII
Waktu itu tak kuhiraukan, waktu itu tak bisa kembali lagi, sangat tak ingin menyesal, karena itu adalah kebodohan untuk yang ke dua kalinya, bukankah itu seperti sepoi angin yang tak mungkin kembali lagi, semua memang begitu adanya pergi dan pegilah asal jangan kembali lagi.
XIV
Berkali-kali kucelupkan wajahku kedalam air agar aku sadar, aku ingin semua ini hanya mimpi, untuk menghhilangkan nilai-nilai yang sudah dihidangkan padaku. Untuk dapatkan hidupku yang lebih baik, ditengah wajah kebanyakan yang munafik.
Akan kudirikan nlaiku sendiri meski demikian ku harus berhadapan dengan yang kebanyakan, tak apa andai nafasku sudah putus, tapi kebanggaanku akan hidup selamanya. Demikianlah hidup yang sebenarnya.
XV
Tak terbilang kata sudah terucap, tiada terbilang pula darah mengalir, haruskah kita hidup di awang-awang langit. Bukankah kaki kita menginjak pada bumi ini, betapa tak tahu malunya kita yang telah mengindahkan bumi ini hanya untuk langit yang jauh mengawang di sana.
Lihatlah pemandangan yang sangat biasa ketika semua orang memandang bentang gumntang di langit. Betapa sangat tidak biasa melihat mereka yang tahu berterimah kasih pada bumi tempat berpijak.
XVI
Sulit untuk dijelaskan bagaimana mengabdikan hidup ini sebagai penabuh genderang perang, tidak hanya bersentuhan kasar dengan comon sense melainkan juga berperang. Gontai langkah, bercak-bercak darah sebagai sesembahan bagi bumi ini.
Kebanggaanku adalah akau tidak menjadi bangsa yang dekaden sebagaimana mereka semua, sakit yang kudapat tak urung merupakan senyuman di jalan.