XVII
Bagaimana tentang pertanyaan yang sulit tuk di jawab, tentang kenyataan yang sulit tuk dijelaskan. Bukankah akan lebih baik jika memang demikian adanya, mungkin dengan demikian akan tetap menjadi baik. Apakah itu?, bukankah sekeliling kita mamang itu. Adalah kita sendiri yang tidak mau memperhatikanya semisal cinta tuhan cinta yang lainya, atau mungkin segala tetek bengek macam hati nurani segala.
XVIII
Usai sudah bulan madu itu, kutahu itu akan berakhir namun tak sesekalipun aku sanggup untuk menghadapinya. Yang aku takutkan adalah aku berada dalam saat mana aku merindukan saat yang itu.
Gelombang api menjilat, bara dada maupun kesejukan nurani yang sentimentil selalu menggugah kerinduanku. Bukankah hidupku masih panjang kenapa aku harus takut, dalam untaian hidupku nanti kemungkinan terbalaskan rinduku bahkan lebih tentu memiliki peluang yang sangat besar. Namun aku tetap murung dalam suasana keheningan yang kontemplatif.
Derai air mataku tak sanggup hapus semua ketakutan maupun kerinduanku. Sesekali terlintas bahwa aku memang hidup dengan garis yang demikian.
Di depan sana terbeentang kotak pandora yang menyodorkan pertanyaan, apakah memang benar akan terjawab kerinduanku. Beribu hujan tanda tanya yang menghujani, bagai siksaan yang tiada henti. Ini adalah neraka sebelum neraka, aku adalah yang tersiksa sebelum siksaan itu sendiri.
XIX
Waktu, ruang, yang lau dan yang akan datang dll, adalah kata yang sering didengungkan untuk masa kini guna menjawab tentang dimensi semesta ini. Dimensi digunakan penyekatan realitas yang adanya dengan yang lain sedemikian rupa dan sangat berbeda.
Seorang sains menggunakan analogi-analogi bahasa sains, sastrawan dengan bahasa sastra, sosial denga bahasa sosial.
Nun jauh disana, orang yang dilindungi oleh kesepian nan derita hanya bisa berkata dunia ini hanya dibagi menjadi dua yaitu dia dan bukan dia.
XX
Terantuk kakiku oleh kayu kematian, tak urung kakiku tertusuk oleh duri kehidupan. Tersengal oleh panasnya udara kebajikan tak urung kukatakan aku menyesal untuk hidup.