Jumat, 10 April 2009

II-III

II


Diluar semua yang ada kunikmati dalam renungan, dalam bentang cakrawala kutarik diriku. Sekilas tak ku hiraukan batas langit dan bumi, dalam sepi yang menusuk tulangku, dalam sepi sendiri yang menakutkan nan kunikmati, terdengar gemerincing dentang lonceng bersautan nan indah, saat itu hatiku membludak melebihi apapun, ku tak tahu tapi yang jelas terbisik kata barbar.


III


Seorang pak tua berjalan tergontai di jalanan, tiba-tiba berhenti karena disapa oleh seorang bangsawan dalam kereta yang berpas-pasan dengannya di tengah jalan. Kemudian bangsawan itu bertanya;” hai pak tua, tidak kamu cemburu untuk hidup seperti saya.”


Pak tua dengan wajah datar tak acuh menjawab.” Buat apa hidup sepertimu, dalam kereta indah, dalam istana, dengan puluhan pelayan, karena itu bukan hidup yang sebenar-benarnya. Aku beri tahu kamu, hidup itu adalah ketika kita berada di jalanan merasakan sakitnya kaki kita digelitik oleh kerikil tajam, berada di pegunungan yang tenggi menikmati ketakutan yang dihidangkan, dalam peperangan. Hidup sebenarnya adalah sederhana yaitu pendulum sakit dan senang tidak lebih. Tapi orang hina macam kaulah berotak bodoh menyulitkanya”.

Bagikan

LinkWithin